Minggu, 31 Desember 2017



sedaeng

Melongok entas-entas suku tengger di Desa Wonokitri 
Mengantar Roh Menghadap Hyang Widi
Hong wilaheng mangkudaya
jagad dewa bathara eyang
jagad pramudita ingkang
miwiti, ndugiaken kajate
saking bapak Sudarmiko kang
sedekah ngentas dateng siti
dermaipun ……… .



Itulah sepenggal bacaan mantra yang diucapkan sang dukun Suku Tengger, Supayadi, ketika acara hajatan entas-entas dari keluarga Sudarmiko alias Ikok, di Balai Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Ya, sang dukun antara lain bertugas sebagai pengantar upacara adat, termasuk entas-entas. Sebagai pengantar upacara adat, sang dukun tidak digaji, tetapi ia menerima dari masyarakat secara sukarela. Entas-entas adalah sebuah acara adat untuk mengentas leluhur yang sudah meninggal. Di acara tersebut rangkaiannya antara lain rakan tawang, mohon ijin kepada yang akan ditempati. Kedua, merniti (menghitung leluhur yang akan diswargakan atau yang akan dientas). Esok dilanjutkan ngelukat sebagai acara puncak atau pembersihan leluhur.
Di tengah-tengah membacakan mantranya, sang dukun dengan atribut dukunnya yakni baju beskar putih dengan selempang wama kuning keemasan serta blangkon, akan menyebut siapa saja yang dientas. Sedangkan urutan acara resepsi entas-entas, yang pertama mepek, artinya uba rampe yang akan dihaturkan, berarti sudah komplet. Setelah mepek, baru dihaturkan oleh yang namanya dukun. Yang dihaturkan sesaji yang berupa dandanan. Kalau ritual bagi umat Hindu, dipimpin yang namanya Pak Mangku. Tetapi di antara adat dan tradisi Hindu, tidak ada hal-hal yang bertentangan. Yang di brang wetan (sebelah timur Gunung Bromo, masuk wilayah Probolinggo) Pak Sudja’i (almarhum), untuk brang kulon (sebelah barat Gunung Bromo, masllk wilayah Pasuruan) namanya Supayadi. Warga Desa Wonokitri ada 670 KK, atau sekitar 3.000 lebihjiwa. Pendapatan mayoritas petani sayuran, kentang, kubis, jagung dan lainnya.
Usai mepek, didoakan bersama-sama, pihak keluarga menghaturkan sesaji untuk persembahyangan. Setelah itu baru acara ramah tamah atau makan bersarna. Esoknya, ngelukat, artinya melabuh sejaji. Tempat leluhur dilabuh nantinya, di sungai terdekat, Sungai Mandrim. Yang dilabuh pitrayadnyanya, seperti foto atau gambar-gambar orang yang sudah meninggal.


sedaeng

Gotong royong, guyub rukun dan tanpa pamrih, mewarnai kehidupan  sehari-hari Suku Tengger pada umumnya, dan khususnya warga Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Apalagi ketika mereka punya hajat, seperti entas-entas. Warga Suku Tengger yang terletak di brang kulon (sisi barat) Gunung Bromo (Pasuruan) itu masih kuat memegang tradisi dan warisan nenek moyangnya. Tak heran saat ada yang memiliki gawe, maka tetangga sekitar bahkan warga sekampung urun tenaga, pikiran bahkan urun biaya. Saat wartawan Majalah Derap Desa hendak menemui kepala desa (kades) Wonokitri, Aidarmiwati, yang merupakan Kades pertama wanita Suku Tengger, untuk wawancara, kebetulan di desa tersebut sedang ada hajatan. Ada dua warga yang punya hajat. Yang satu hajatan pengantin, sedangkan yang satunya entas-entas (selamatan untuk orang yang sudah meninggal). Ya, upacara adat dan selamatan tampaknya tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat Tengger.


sedaeng

Pengurus Cabang (PC) Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) Kabupaten Kolaka menggelar Training of Trainer (TOT) Ke-XIV Regional Sulawesi. Kegiatan dipusatkan di Aula Hotel Gelora dari Tanggal 21-24 Desember 2017.
Permerintah daerah di kabupaten Kolaka sangat mengapresiasi adanya kegiatan TOT yang dilaksanakan oleh PC KMHDI Kolaka.
“Kegiatan TOT sangat penting dan sangat bermanfaat bagi generasi muda Hindu. Semoga TOT dapat dilaksanakan sesuai jadwal yang ditentukan, dan diharapkan dapat menghasilkan para trainer yang baik,” katanya
Presidium KMHDI Pusat, Putu Wiratnaya, S.Kom M.Si.M dalam sambutannya meminta agar generasi muda tidak boleh salahgunakan perkembangan teknologi. Terutama penggunaan teknologi yang dapat menyebabkan konflik. Gunakan teknologi sebaik mungkin untuk ikut menjadi bagian dalam mencapai cita-cita bangsa.
Wakil bupati Kolaka H. Muhammad Jayadin, SE,  menyatakan atas nama pemerintah daerah menyambut baik kehadiran adik-adik dalam rangka mensukseskan kegiatan TOT XVI KMHDI regional sulawesi yang dilaksanakan di Kolaka. Pemerintah Daerah Sangat mendukung kegiatan yang positif seperti ini baik secera moril maupun materil, apalagi dengan nilai – nilai yang di tanamkan dalam jati diri KMHDI  seperti religius, humanis, nasionalis dan progresif  membuat saya sangat yakin bahwa kader-kader KMHDI  udah sangat siap kerja nyata.
Sedangkan Ketua PC KMHDI Kolaka, Sigit Purnimo, Amd.Kep mengaku berterima kasih dan mengapresiasi atas kerja keras panitia pelaksana serta keterlibatan beberapa Pengurus PD KMHDI yang mau datang untuk membantu mempersiapkan kegiatan TOT ini.
Sedangkan Ketua Panitia Pelaksana, Putu Eden Suardika. Menyatakan berterimakasih kepada seluruh panitia dan semua pihak yang menyukseskan kegiatan TOT ini dan menyebutkan, bahwa dalam rangkaian kegiatan TOT yang mengambil tema “Our Creativity is Our Tradition” itu, akan dilaksanakan juga Seminar Nasional (Bangga Menjadi Indonesia), Training of Trainer (TOT), (Materi dan Simulasi), Bina Akrab Kader KMHDI, Tirta Yatra dan Bakti Sosial.
Peserta dan Fasilitator kegiatan Training Of Trainer XIV KMHDI Regional Sulawesi, yang meliputi : 4 Pimpinan Daerah, 9 Pimpinan Cabang, dan 2 Komisariat KMHDI, dengan jumlah peserta 100 dan 50 fasilitator.


sedaeng

Nama  : Sueko-Karno

Nama Panggilan  : Eghy

TTL                     : Pasuruan 16-02-1990

Nama Band         : Rangka

Posisi                  : Gitaris

Tinggal Di Kota : Makassar

Eghy gitaris memulai karirnya di daerah kota makassar dengan karyanya yang direkam secara otodidak di home studio salah satu personel Rangka Band. Mendapat banyak apresiasi dari para pendengarnya, Eghy mencoba untuk mengikuti event resmi nasional sperti KFC Talent Search 2008 
di Bandung dan berhasil masuk ke kompilasi album projek tersebut. Pada akhirnya eghy dapat meraih Juara Pertama a Mild Live Wanted 2009 di Bandung. Disitulah awal eghy salah satu personel Rangka Band masuk ke label nasional Musica Studio. Dan kali ini Eghy mengeluarkan dua Single dengan judul single IRS dan Hingga Saat ini.


Jumat, 22 Desember 2017




Sebagai daerah penopang wisata Gunung Bromo, Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan, tidak hanya memperkuat layanan akomodasi dan transportasi yang mudah. Kini juga mengembangkan kesenian sebagai satu bentuk wisata budaya.
Salah satu diantaranya yang kini terus dikembangkan dan eksis adalah Reog Tengger. Pemda memberikan ruang pada reog Tengger untuk berkembang. Koordinator Kelompok Sadar Wisata (Darwis) Lembaga Desa Wisata (Ladewi) Supriyanto menyebut, reog Tengger sempat mati suri. Namun, karena adat di suku Tengger sangat kental, tidak sulit untuk membangkitkan kesenian ini lagi.
Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya dalam berbagai kesempatan menyebutkan syarat agar destinasi itu kuat, ada 3A. Ada Atraksi, Akses, dan Amenitas. "Reog ini masuk dalam kategori atraksi berbasis budaya. Atraksi inilah salah satu yang menjadi daya pikat orang untuk datang ke destinasi itu," kata Menpar Arief.
Selanjutnya, untuk bisa sampai ke destinasi itu butuh akses, yang menghubungkan ke destinasi itu. Kemudahan, kecepatan, biaya menuju ke destinasi itu juga menjadi faktor penentu sukses pengembangan objek wisata itu. "Yang terakhir adalah amenitas, hotel, restoran, cafe, restoran, souvenir shop dan lainnya," kata Arief Yahya. 
Kini, reog Tengger terus dikenalkan melalui berbagai acara. Beragam kegiatan warga pun sering mengundang reog Tengger sebagai hiburan. Seperti, khitanan. Lalu pada perayaan Kasada Juli mendatang, dipastikan reog Tengger akan digelar diikuti beberapa desa pemilik ke senian reog. Pagelaran seni tersebut akan dilaksanakan di Gunung Bromo.
“Dengan demikian eksistensi reog Tengger akan semakin terlihat. Bahkan sudah banyak generasi muda yang tergabung di tiap kelompok yang ada di desa,” kata Supriyanto yang juga menjabat sebagai Kasi Perencanaan di Desa Jetak, Kecamatan Sukapura ini.
Sejalan dengan itu, kata Supriyanto, reog Tengger sangat berpotensi sebagai wisata budaya. Reog Tengger sering jadi kesenian untuk menyambut wisatawan yang datang. “Tujuan awal membangkitkan kesenian reog ini untuk menyambut tamu atau wisatawan. Serta mempertahankan kesenian yang sudah ada secara turun temurun,” tuturnya.
Camat Sukapura Yulius Christian menambahkan, saat ini tiap desa di Sukapura memiliki kelompok kesenian yang di dalamnya ada reog Tengger. Karena itu, pihaknya berencana mengadakan Festival reog Tengger yang pesertanya tiap desa di Kecamatan Sukapura.
“Ini bagian dari cara untuk terus mengembangkan reog Tengger. Sebab, kesenian ini berpotensi jadi wisata budaya. Selama ini kan, wisatawan yang berkunjung ke Bromo hanya menikmati alamnya. Padahal banyak wisata budaya yang bagus di Tengger,” katanya.
Dirinya berharap, reog Tengger jadi wisata budaya yang mendukung wisata Bromo. Keberadaan Reog Tengger sebenarnya diwariskan turun temurun oleh nenek moyang warga suku Tengger di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
Namun, kemudian mati suri lantaran tidak ada penerusnya. Kondisi ini menggugah kesadaran pemerintah setempat. Mulai pemerintah ke camatan, hingga desa. Maka pada tahun 2000, reog Tengger kembali dihidupkan, namun, tidak lama.
Untuk mengantisipasi kevakuman pada tahun 2011-2012 dibentuklah Kelompok Sadar Wi sata (Darwis) Lembaga Desa Wisata (Ladewi) di Desa Jetak dan kelompok-kelompok serupa di tiap desa. Alhasil, tiap desa memiliki komunitas budaya sendiri. Biasanya tak hanya reog, komunitas ini juga meng gi atkan jaranan dan tari-tarian.
Supriyanto menyebut, sebagai kesenian yang mengacu pada reog Ponorogo, atribut dan alat kesenian yang digunakan pada reog Tengger, mirip dengan reog Ponorogo yakni dadap atau bulu merak, topeng gonongan dan caplokan.
Sedang alat musiknya, adalah gendang, gong, saron, kenong, angklung, selendro (gamelang komplit) dan alat orkes. Meski mengacu pada reog Ponorogo, ada beberapa perbedaan yang sifatnya untuk menyesuaikan dengan kondisi daerah, adat dan kesukaan warga setempat. Me ngingat pada era modern ini, kesenian juga harus berkembang.
“Alat orkes ini merupakan inovasi kami. Mengingat pada era modern ini kesenian juga harus berkembang. Sementara warga Tengger banyak yang suka lagu campur sari. Sehingga alat orkes tersebut digunakan untuk lagu campur sari,” ujar lelaki yang juga kasi perencanaan di Desa Jetak ini.
Saat ini, reog Tengger banyak tampil di sejumlah kegiatan. Waktu permainannya tergantung dari yang mengundang. Namun normalnya, 1,5 jam tanpa adegan kalap (trans/kesurupan). Sementara jika menggunakan kalap, bisa dua jam.
“Terkadang ada pengundang yang tidak suka adegan kesurupan. Sehingga hanya dilakukan biasa saja. Untuk biaya tanggapanya sendiri jika hanya reok sekitar Rp 2 juta,” katanya.
Tidak sekedar tampil di banyak kegiatan. Pelestarian reog Tengger kini dilakukan sistemanis dengan cara diajarkan pada siswa SD. Khususnya di Desa jetak. “Latihan rutinnya satu minggu dua kali. Biasanya sabtu malam dan minggu malam yang terpenting tidak menggangu waktu belajar,” katanya.
Ngantoro, dukun reog di Darwis Ladewi yang juga kasi pemerintahan di Desa Jetak menambahkan, ada beberapa hal yang perlu disiapkan sebelum reog tampil. Salah satunya adalah ubo rampe dengan isi atau sesaji beragam.
Ada gedang ayu, rokok kinangan komplet (jambe, daun siri, kembang telon), jenang wonco (jenang lima warna, yaitu putih, merah, hijau, kuning, dan hitam).
Lalu, sego gulung (tujuh nasi kepel yang tengahnya diisi telur jawa). Kemudian, wedang kopi pahit dan air putih, kembang setaman, pituan (kelapa, beras dan 5 biji telur mentah) dan janur tujuh sisir. Meski demikian, kadang ubo rampe tiap desa berbeda.
Secara umum reog Tengger, mirip dengan reog Ponorogo. Sebab, pakem utama reog Tengger mengacu pada reog Ponorogo. Misalnya cerita pertarungan Singobarong dengan Kelanaswandana memperebut Dewi Songgolangit, putri Kerajaan Kediri yang terkenal cantik. Kelanaswandana akhirnya menikahi Dewi Songgolangit.
Meski demikian, cerita ini mulai terlupakan di reog Tengger. Warga hanya mengenal, ini kesenian turun temurun. Juga, ada beberapa hal yang membedakan reog Ponorogo dan Tengger. Seperti yang disampaikan Misnan, 54, dukun di Kelompok Seni Jaranan Kreasi Abdhi Budoyo, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura.
Warga Desa Ngadisari ini menyebut, reog Ponorogo kekuatannya dari olah kanuragan. Sedangkan reog Tengger khusus untuk kalap atau kesurupan. Reog Ponorogo menurutnya, harus dipelajari dan dilatih khusus. Mengingat kekuatan yang didapat dari ilmu kanuragan. Sedangkan reog Tengger relatif bisa dilakukan oleh siapapun. Bahkan, anak kecil sekalipun. Asal secara fisik mampu.
“Saat tampil, dukun akan mengundang makluk lain untuk kalap. Jika sudah kalap, orang bisa dan mampu memainkan reognya. Jika belum kalap, sangat sulit. Sebab, berat dari reog itu men capai 30 kilogram. Dan hanya ditahan dengan menggunakan gigi,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan Koordinator Kelompok Sadar Wisata (Darwis) Lembaga Desa Wisata (Ladewi) Supriyanto. Menurutnya, perbedaan reog Tengger dan Ponorogo terjadi, karena inovasi semata. Misalnya, pengiring lagu, Warga Tengger yang kental dengan adatnya, juga penggemar campur sari.
Karena itu, pengiring lagu untuk reog yang dimainkan di Desa Jetak, yaitu lagu campur sari. “Ada beberapa peleburan dan inovasi yang digunakan lantaran menyesuaikan dengan adat di desa,” katanya.
Ngantoro, dukun reog di Darwis Ladewi menambahkan, hingga kini, keberadaan reog Tengger selalu terjaga. Sebab, sejumlah kegiatan masih sering menjadikan reog Tengger sebagai hiburan.



Sejarah Tengger
“Kami keturunan Majapahit seperti Hindu di Bali, tapi leluhur kami memilih tinggal di kawasan ini,” kata Wanasis, pria 72 tahun suku Tengger yang sedang rehat depan rumahnya, Desa Ngadisari, area terdekat dengan Bromo.
Asal usul warga Tengger dari legenda Joko Seger dan Roro Anteng ini ada di sejumlah website dengan sedikit variasi. Salah satu yang merangkumnya adalah Alpha Savitri yang membuat e-book Sejarah, Agama, dan Tradisi Tengger Bromo.
Savitri menjelaskan ada banyak makna yang dikandung dari kata Tengger. Secara etimologis, Tengger berarti berdiri tegak, diam tanpa bergerak (Jawa). Bila dikaitkan dengan adat dan kepercayaan, arti tengger adalah tengering (tanda) budi luhur. Artinya tanda bahwa warganya memiliki budi luhur. Makna lainnya adalah daerah pegunungan. Tengger memang berada pada lereng pegunungan Tengger dan Semeru.
Ada pula pengaitan tengger dengan mitos masyarakat tentang suami istri cikal bakal penghuni wilayah Tengger, yakni Rara Anteng dan Joko Seger. Sejarah Tengger dari sisi ilmiah erat kaitannya dengan Prasasti Tengger bertahun 851 Saka (929 Masehi), diperkuat Prasasti Penanjakan bertahun 1324 Saka (1402 Masehi).
Disebutkan sebuah desa bernama Wandalit yang terletak di pegunungan Tengger dihuni oleh Hulun Hyang (hamba Tuhan = orang-orang yang taat beragama) yang daerah sekitarnya disebut hila-hila (Suci). Karena itulah kawasan Tengger merupakan tanah perdikan istimewa yang dibebaskan dari pembayaran pajak oleh pusat pemerintahan di Majapahit. Masyarakat Tengger dikenal luas beragama Hindu, berpadu dengan kepercayaan tradisional. Hindu masyarakat Tengger berbeda dengan Hindu di Bali.
Perbedaannya antara lain, Hindu Tengger tidak mengenal ngaben sebagai upacara kematian sebagaimana di Bali. Nancy J. Smith, seorang peneliti menyatakan, mantra-mantra yang dipakai dalam upacara mirip juga dengan mantra Budha sehingga masyarakat luas juga menyatakan bahwa suku Tengger beragama Budha. Namun menurut Nancy, Budha di sini bukan dalam pengertian agama, melainkan istilah yang lazim dipakai masyarakat Jawa untuk menyebut agama sebelum Islam. Memang, pada zaman Majapahit diakui ada dua agama, yakni Hindu dan Budha. Pada abad ke- 14 setelah masuknya Islam, kata “Budha” dipakai untuk orang yang belum menganut Islam.



Legenda Tengger dan Gunung Bromo yang direproduksi melalui cerita rakyat dan sendratari adalah kisah Rara Anteng dan Joko Seger. Alkisah, pada zaman dahulu, ada seorang putri Raja Brawijaya dengan Permaisuri Kerajaan Majapahit. Namanya Rara Anteng. Karena situasi kerajaan memburuk, Rara Anteng mencari tempat hidup yang lebih aman. Ia dan para punggawanya pergi ke Pegunungan Tengger.
Di Desa Krajan, ia singgah satu windu, kemudian melanjutkan perjalanan ke Pananjakan. Ia menetap di Pananjakan dan mulai bercocok tanam. Rara Anteng kemudian diangkat anak oleh Resi Dadap, seorang pendeta yang bermukim di Pegunungan Bromo. Sementara itu, Kediri juga kacau sebagai akibat situasi politik di Majapahit. Joko Seger, putra seorang brahmana, mengasingkan diri ke Desa Kedawung sambil mencari pamannya yang tinggal di dekat Gunung Bromo.
Di desa ini, Joko Seger mendapatkan informasi adanya orang-orang Majapahit yang menetap di Pananjakan. Joko Seger pun melanjutkan perjalanannya sampai Pananjakan. Joko Seger tersesat dan bertemu Rara Anteng yang segera mengajaknya ke kediamannya. Sesampai di kediamannya, Rara Anteng dituduh telah berbuat serong dengan Joko Seger oleh para pinisepuhnya. Joko Seger membela Rara Anteng dan menyatakan hal itu tidak benar, kemudian melamar gadis itu. Lamaran diterima.
Resi Dadap Putih mengesahkan perkawinan mereka. Sewindu sudah perkawinan itu namun tak juga mereka dikaruniai anak. Mereka bertapa 6 tahun dan setiap tahun berganti arah. Sang Hyang Widi Wasa menanggapi semedi mereka. Dari puncak Gunung Bromo keluar semburan cahaya yang kemudian menyusup ke dalam jiwa Rara Anteng dan Joko Seger. Ada pawisik mereka akan dikaruniai anak, namun anak terakhir harus dikorbankan di kawah Gunung Bromo. Pasangan ini dikarunia 25 anak sesuai permohonan mereka, karena wilayah Tengger penduduknya sangat sedikit. Putra terakhir bernama R Kusuma.
Bertahun-tahun kemudian Gunung Bromo mengeluarkan semburan api sebagai tanda janji harus ditepati. Suami istri itu tak rela mengorbankan anak bungsu mereka. R Kusuma kemudian disembunyikan di sekitar Desa Ngadas. Namun semburan api itu sampai juga di Ngadas.
R Kusuma lantas pergi ke kawah Gunung Bromo. Dari kawah terdengar suara R Kusuma supaya saudara-saudaranya hidup rukun. Ia rela berkorban sebagai wakil saudara-saudaranya dan masyarakat setempat. Ia berpesan, setiap tanggal 14 Kesada, minta upeti hasil bumi. Cerita lain menunjukkan saudara-saudara R Kusuma menjadi penjaga tempat-tempat lain.
Maka setiap hari ke-14 bulan purnama di bulan Kasada, dikirimilah Raden Kusuma beragam hasil ladang ke kawah Gunung Bromo. Upacara persembahan tersebut menjadi tradisi yang diselenggarakan secara turun temurun hingga sekarang yang diberi nama Yadnya Kasada.
Dukun selalu meriwayatkan kisah Joko Seger-Rara Anteng. Berikut ini nama-nama 25 anak Joko Seger – Rara Anteng. Mereka dihubungkan dengan tempat-tempat yang dianggap keramat di Bromo dan sekitarnya. Yakni Tumenggung Klewung (Gunung Ringgit), Sinta Wiji (Gunung Kidangan), Ki Baru Klinting (Lemah Kuning), Ki Rawit (Gunung Sumber Semani), Jinting Jinah (Gunung Jinahan), dan Ical (Gunung Pranten).
Selanjutnya Prabu Siwah (Gunung Lingga), Cokro Pranoto Aminoto (Gunung Gendera), Tunggul Wulung (Cemoro Lawang), Tumenggung Klinter (Gunung Penanjakan), Raden Bagus Waris (Watu Balang), Ki Dukun (Watu Wungkuk), Ki Pranoto (Poten), Ni Perniti (Gunung Bajangan), Petung Supit (Tunggukan), Raden Mas Sigit (Gunung Batok), Puspa Ki Gentong (Widodaren), dan Kaki Teku Niti Teku (Guyangan).
Kemudian ada Ki Dadung Awuk (Banyu Pakis), Ki Demeling (Pusung Lingker), Ki Sindu Jaya (Wonongkoro), Raden Sapujagad (Pundak Lemdu), Ki Jenggot (Rujag), Demang Diningrat (Gunung Semeru), dan Raden Kusuma (Gunung Bromo).




upacara Kasodo atau upacara Yadnya Kasada merupakan ritual adat yang dilakukan oleh suku tengger untuk menghormati gunung Brahma (gunung Bromo), gunung yang merupakan salah satu gunung yang masih aktif. Dengan ketinggian puncaknya 2.392 meter dari permukaan laut,dengan diameter kawah mencapai 4 Km, dan diapit oleh empat wilayah Kabupaten. Masyarakat yang mendiami area wilayah ini adalah masyarakat suku Tengger, yang selaku pelaksana rutin upacara Kasodo tersebut.

       Suku Tengger adalah sebuah suku yang tinggal di sekitar gunung Bromo, Jawa Timur, menempati sebagian wilayah kabupaten Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, dan Malang. Menurut legenda, asal-usul suku tersebut dari kerajaan Majapahit yang mengasingkan diri. Mayoritas masyarakatnya memeluk agama Hindu, namun agama Hindu yang dianut berbeda dengan agama Hindu di Bali, yaitu Hindu Dharma. Hindu yang berkembang di masyarakat Tengger adalah Hindu Mahayana. Selain agama Hindu, agama lain yang dipeluk adalah agama Islam, Protestan, Katolik.

    Bagi suku Tengger, gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung tersebut. “Prosesinya diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa” tutur pria yang biasa disapa pak Yatno ini.Setelah Upacara selesai, ongkek – ongkek (wadah) yang berisi sesaji dibawa dari kaki gunung Bromo menuju sisi kawah. Sesaji dilemparkan ke dalam kawah sebagai simbol pengorbanan yang dilakukan oleh nenek moyang mereka. Di sisi bagian dalam kawah banyak terdapat pengemis dan penduduk Tengger yang tinggal di pedalaman, mereka jauh-jauh datang ke gunung Bromo dengan harapan mereka mendapatkan sesaji yang dilempar.
   
Penduduk melempar sesaji berbagai macam hasil bumi dan ternak, mereka menganggapnya sebagai kaul atau terima kasih terhadap Tuhan atas hasil pertanian dan ternak yang melimpah.Upacara Kasodo diawali dengan pengukuhan sesepuh Tengger dan pementasan sendratari Rara Anteng-Jaka Seger di panggung terbuka desa Ngadisari. Kemudian tepat tengah malam diadakan pelantikan dukun (sesepuh agama) dan pemberkatan umat di lautan pasir gunung Bromo. Cerita adanya upacara Kasodo berawal dari para leluhur masyarakat suku Tengger, yaitu kisah pasangan Roro Anteng (putri Majapahit) dan Joko Seger (putra Brahmana). Dimana kedua pasangan Roro Anteng dan Joko Seger membangun pemukiman dan berkuasa di wilayah daerah Tengger yang dikenal dengan sebutan Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger, yang mempunyai arti “Penguasa Tengger yang Budiman”.Dari sekian lama kedua pasangan tersebut hidup bersama tapi harapan adanya momongan juga belum kunjung tiba. Sehingga mereka melakukan semedi / bertapa, mengharap kepada Sang Hyang Widi agar dikarunia momongan. Pada sebuah upaya semedi inilah, tiba-tiba terdengar bisikan gaib yang mengatakan bahwa upaya yang mereka lalukan akan berhasil tapi dengan syarat. Apabila mereka telah mendapatkan anak yang mereka harapkan, maka anak bungsu mereka harus menjadi korban sesembahan di kawah gunung Bromo. Akhirnya Roro Anteng dan Joko Seger pun menyanggupi syarat yang telah ditentukan. Kemudian seperti apa yang dikatakan bisikan gaib tadi mereka akhirnya mendapatkan karunia 25 orang putra-putri yang sangat mereka sayangi.Roro Anteng dan Joko Seger pun ingat akan persyaratan yang telah ditentukan dalam sebuah semedi waktu lalu. Namun rasa kasih sayang orang tua sangat mempengaruhi naluri tidak tega kedua pasangan itu untuk mengorbankan salah satu anggota keluarga mereka. Singkat cerita mereka pun ingkar akan janji yang telah ditetapkan. Dewa menjadi marah dengan mengancam akan menimpakan malapetaka, kemudian terjadilah prahara keadaan menjadi gelap gulita kawah Gunung Bromo menyemburkan api.Kesuma anak bungsunya lenyap dari pandangan terjilat api dan masuk ke kawah Bromo, bersamaan hilangnya Kesuma terdengarlah suara gaib, “Saudara-saudaraku yang kucintai, aku telah dikorbankan oleh orang tua kita dan Hyang Widi menyelamatkan kalian semua. Hiduplah damai dan tenteram, sembahlah Hyang Widi. Aku ingatkan agar kalian setiap bulan Kasada pada hari ke-14 mengadakan sesaji kepada Hyang Widi di kawah Gunung Bromo”.Kebiasaan ini diikuti secara turun temurun oleh masyarakat Tengger dan setiap tahun diadakan ritual adat yang dikenal dengan sebutan upacara Kasodo, yang dilaksanakan pada Poten lautan pasir dan kawah Gunung Bromo.

Popular Posts

Post image 1

Pos image 3