Jumat, 22 Desember 2017




Sejarah Tengger
“Kami keturunan Majapahit seperti Hindu di Bali, tapi leluhur kami memilih tinggal di kawasan ini,” kata Wanasis, pria 72 tahun suku Tengger yang sedang rehat depan rumahnya, Desa Ngadisari, area terdekat dengan Bromo.
Asal usul warga Tengger dari legenda Joko Seger dan Roro Anteng ini ada di sejumlah website dengan sedikit variasi. Salah satu yang merangkumnya adalah Alpha Savitri yang membuat e-book Sejarah, Agama, dan Tradisi Tengger Bromo.
Savitri menjelaskan ada banyak makna yang dikandung dari kata Tengger. Secara etimologis, Tengger berarti berdiri tegak, diam tanpa bergerak (Jawa). Bila dikaitkan dengan adat dan kepercayaan, arti tengger adalah tengering (tanda) budi luhur. Artinya tanda bahwa warganya memiliki budi luhur. Makna lainnya adalah daerah pegunungan. Tengger memang berada pada lereng pegunungan Tengger dan Semeru.
Ada pula pengaitan tengger dengan mitos masyarakat tentang suami istri cikal bakal penghuni wilayah Tengger, yakni Rara Anteng dan Joko Seger. Sejarah Tengger dari sisi ilmiah erat kaitannya dengan Prasasti Tengger bertahun 851 Saka (929 Masehi), diperkuat Prasasti Penanjakan bertahun 1324 Saka (1402 Masehi).
Disebutkan sebuah desa bernama Wandalit yang terletak di pegunungan Tengger dihuni oleh Hulun Hyang (hamba Tuhan = orang-orang yang taat beragama) yang daerah sekitarnya disebut hila-hila (Suci). Karena itulah kawasan Tengger merupakan tanah perdikan istimewa yang dibebaskan dari pembayaran pajak oleh pusat pemerintahan di Majapahit. Masyarakat Tengger dikenal luas beragama Hindu, berpadu dengan kepercayaan tradisional. Hindu masyarakat Tengger berbeda dengan Hindu di Bali.
Perbedaannya antara lain, Hindu Tengger tidak mengenal ngaben sebagai upacara kematian sebagaimana di Bali. Nancy J. Smith, seorang peneliti menyatakan, mantra-mantra yang dipakai dalam upacara mirip juga dengan mantra Budha sehingga masyarakat luas juga menyatakan bahwa suku Tengger beragama Budha. Namun menurut Nancy, Budha di sini bukan dalam pengertian agama, melainkan istilah yang lazim dipakai masyarakat Jawa untuk menyebut agama sebelum Islam. Memang, pada zaman Majapahit diakui ada dua agama, yakni Hindu dan Budha. Pada abad ke- 14 setelah masuknya Islam, kata “Budha” dipakai untuk orang yang belum menganut Islam.

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Post image 1

Pos image 3